BKI Bisa Jadi Pilar Energi Terbarukan Nasional

Redaksi
BKI Bisa Jadi Pilar Energi Terbarukan Nasional
Ilustrasi

Diprediksi 2030 Indonesia akan menjadi salah satu negara maju di dunia. Akan tetapi prediksi ini akan sirna jika dalam waktu 9 tahun ini tidak ada tindakan nyata berbagai pihak meski pemerintah sudah menetapkan adanya roadmap dan kebijakan yang mendukung hal terkait.

Sadar atau tidak sadar, cadangan energi yang bersumber dari fossil fuel dan gas akan segera habis dan tidak dapat diperbaharui. Seluruh komponen akan tergerus sehingga berganti menjadi komponen yang disupport oleh teknologi baru. Tidak lagi menggunakan input dari energi yang umum dipakai saat ini terutama sektor transportasi. 

Oleh karena itu, pertimbangan secara matang dalam menuju konsep EBT harus cepat dilakukan sehingga Indonesia tidak menjadi negara target pasar teknologi EBT negara maju. 

Untuk mendukung hal tersebut, di Indonesia kita mengenal adanya BUMN yang sudah memiliki standar internasional dan badan klasifikasi yaitu BKI. BKI sangat mungkin menjadi salah satu pilar dalam pengembangan industri energi baru terbarukan/EBT nasional. 

Pasalnya BKI atau PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) yang bergerak di bidang survey dan inspeksi dengan domain utama adalah survey kapal, sudah mempunyai pengalaman sejak tahun 1964. BKI memiliki sektor bisnis komersil antara lain Strategic Business Unit Marine & Offshore/SBU MNO, Strategic Business Unit Energy & Industry, Telematic Sector, dan BKI Academy (pendidikan dan pelatihan). 

Unit-unit ini memberikan dampak positif bagi pengembangan bisnis BKI yang mana kondisinya hanya dalam waktu lebih kurang 20 tahun, sudah dapat hampir menyamai posisi pendapatan bisnis dari sektor classification di kapal.

BKI juga punya rekam jejak dalam Riset dan Pengembangan yang dilakukan oleh Divisi R N D BKI sejak lama. Meski riset dan pengembangan yang dilakukan BKI lebih banyak dalam hal rule kapal, tetapi bukan tidak mungkin BKI tidak mampu melakukan riset dan pengembangan lainnya. 

Lebih lebih saat ini BKI sudah membentuk holding bersama Sucofindo dan Surveyor Indonesia menjadi holding BUMN jasa survey dan inspeksi, dimana BKI sebagai champion/leader, akan sangat mungkin bagi BKI melakukan upaya riset dan pengembangan yang lebih jauh lagi ke arah sektor Industri EBT. 

Negara maju di Eropa seperti Norwegia, Denmark, dan Jerman, memiliki badan klasifikasi gabungan dengan nama DNV-GL. Merger perusahaan beberapa negara ini semula terpisah yaitu DNV/ Det Norst Veritas dan Germanicher Llyoid. DNV-GL semula mengandalkan sektor bisnis bidang maritime, terutama kapal. 

Tapi kemudian, mereka merubah strategi bisnis dan target tidak hanya sektor maritime dan perkapalan, tetapi juga masuk ke industri-industri yang berkaitan dengannya. Lama-lama, DNV-GL juga memainkan peran di sektor energi baru terbarukan. Menurut sumber dari DNV-GL sendiri menyebutkan adanya keterlibatannya secara langsung di sektor energi angin. 

DNV ikut berpartisipasi dalam investasi untuk pengembangan serta inspeksi/ survey baik pembangkit listrik tenaga angin di daratan, maupun di lautan/ offshore. Oleh karena riset dan pengembangan DNV-GL yang cukup memadai melakukan upaya penelitian dan pengembangan sektor daratan dan lautan menjadikan DNV-GL sebagai perusahaan yang handal di bidang ini.

Bagaimana dengan Indonesia yang punya BKI? Bukan tidak mungkin BKI juga mampu melakukan hal serupa yang dilakukan oleh DNV-GL, dimana BKI saat ini sudah menjadi induk Holding BUMN Jasa survey. 

Dengan tambahan kemampuan itu, pemerintah dapat mendorong BKI menjadi lokomotif Indonesia Maju di bidang energi terbarukan melakui sinergi bersama BUMN lainnya seperti PLN, PT LEN, PT Krakatau Steel, dan perusahaan swasta nasional, termasuk pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan akademisi terkait di bidang energi.


Daftar referensi :
www.bki.co.id 
www.dnvgl.com


Andri Rezeki, S.T.
Pemerhati Energi Baru Terbarukan

#Ebt   #BKI   #Indonesia   #sucofindo