Ditjen Migas Gelar Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara dan Mulut

redaksi
Ditjen Migas Gelar Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara dan Mulut
Para Ibu Pekerja di Lingkungan Ditjen Migas

OFFSHORE Indonesia - Untuk meningkatkan pemahaman para pegawai  mengenai kanker payudara dan kanker mulut, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi menyelenggarakan Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara dan Kanker Mulut di Gedung Ibnu Sutowo, Selasa (10/12).

Kegiatan ini dihadiri oleh Sekretaris Ditjen Migas Iwan Prasetya Adhi, Ketua Dharma Wanita Ditjen Migas Lusi Djoko Siswanto dan menampilkan narasumber yaitu drg. Andrian Nova Fitri, Sp.PM serta Madelina Mutia dari Love Pink yang merupakan organisasi nirlaba yang memfokuskan diri pada kegiatan sosialisasi deteksi dini dengan cara Sadari (periksa payudara sendiri).

Sesditjen Migas Iwan Prasetya Adhi meminta agar para pegawai memanfaatkan kesempatan ini untuk mengetahui sedini mungkin mengenai kanker payudara dan mulut, sehingga dapat terhindar dari kedua penyakit tersebut. “Sosialisasi ini agar kita dapat mendeteksi kedua penyakit ini sejak awal. Kegiatan ini akan menambah pemahaman kita, sehingga apabila kita terkena penyakit, dapat segera diketahui sejak awal untuk selanjutnya dilakukan pengobatan,” kata Iwan.

Mengawali paparannya, Drg. Andrian Nova Fitri, Sp.PM mengungkapkan, tren penyakit saat ini termasuk kanker mulut,  tak hanya didominasi oleh orang tua yang berusia di atas 40 tahun, tetapi juga menyasar anak muda. Hal ini antara lain disebabkan oleh gaya hidup masa kini.  Kanker mulut juga lebih banyak diderita oleh laki-laki.

Kanker  mulut adalah sekumpulan sel-sel yang tidak terkontrol atau tidak dapat dikendalikan, yang terjadi akibat adanya paparan kronis faktor-faktor resiko kanker mulut, sehingga menyebabkan rusaknya genetik di dalam sel. Berlangsung terus dan mengakibatkan terhambatnya DNA repair, hingga suatu saat memberikan manifestasi secara klinis.

Penyakit kanker mulut terutama disebabkan oleh kebiasaan merokok dan minum alkohol serta kebiasaan menyirih.  “Orang yang merokok sekian batang per hari dan lantas minum alkohol, resiko kankernya lebih besar,” katanya.

Kanker mulut juga disebabkan oleh human papilloma virus (HPV)  tipe 16. HPV juga menyebabkan kanker mulut rahim. HPV menyebabkan mutase dari gen P53 yang banyak ditemukan di kanker mulut.

Agar tidak terkena penyakit ini, Andrian menyarankan agar berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol serta rutin memeriksakan kesehatan gigi dan mulut. “Minimal periksakan kesehatan mulut dan gigi sekali setahun apabila tidak ada gangguan mulut. Jika ada keluhan, jangan bertanya pada saudara pada tetangga atau saudara, melainkan datangi ahlinya. Dengan demikian, apabila ada penyakit yang serius, dapat segera diketahui,” pesan Andrian.

Selain itu, perlu dilakukan pemeriksaan mulut secara mandiri di rumah. Caranya, lihat rongga mulut menggunakan cermin dan perhatikan apakah terdapat benjolan, bercak-bercak atau sariawan, serta luka yang lama sembuh di dalam lidah, bibir, langit-langit, dan rongga mulut.

Sementara Madelina Mutia dari Love Pink memaparkan, satu dari delapan perempuan beresiko terdiagnosa kanker payudara. “Jika tidak ditangani secara serius, pada tahun 2030, angka ini akan berubah menjadi satu dari tiga perempuan beresiko terdiagnosa kanker payudara,” paparnya.

Penyakit kanker payudara juga penyebab kematian nomor satu perempuan di Indonesia. “Pasien perempuan terbanyak di rumah sakit adalah pasien kanker payudara,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Muti ini.

Kanker payudara tidak hanya diderita perempuan semata. Sebanyak satu dari 1.000 laki-laki beresiko terdiagnosa kanker payudara. Satu dari 100 atau 1% pasien payudara adalah laki-laki.

Meski demikian, apabila penyakit ini  dapat terdeteksi sejak dini, harapan hidup mencapai 98%. “Makanya kami sangat cerewet melakukan kampanye deteksi dini kanker payudara, termasuk ke sekolah-sekolah karena makin ke sini, usia yang terkena kanker payudara makin muda. 

Setahun lalu, kami mendengar dari dokter bahwa ia baru saja melakukan operasi pengangkatan payudara pada pasien berumur 16 tahun. Setelah itu kami langsung sosialisasi ke sekolah dan ke kampus-kampus. Diharapkan “Sadari” (periksa payudara sendiri) menjadi gaya hidup kita,” papar Muti.

Kanker payudara belum diketahui penyebabnya. Namun faktor resiko untuk terkena kanker ini, antara lain jenis kelamin di mana perempuan lebih beresiko ketimbang laki-laki, usia, faktor genetis, riwayat keluarga, usia awal menstruasi, tidak melahirkan atau tidak menyusui dan pola hidup tidak sehat.

Sejumlah tanda-tanda kanker payudara seperti payudara mengeras, menumbuh, cekung, berlekuk, kemerahan, puting keluar cairan tapi bukan ASI, puting ke dalam, tumbuh pembuluh darah, mengerut seperti buah jeruk, terdapat benjolan, berubah bentuk dan kulit mengelupas. Cara memeriksa payudara dapat dilakukan melalui “Sadari” yang dilakukan sekali sebulan pada hari ke 7 setelah awal menstruasi, USG payudara dan mammogram. 

"Kalau sudah ada tanda-tanda ini, segera ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut. Jika kemudian ditemukan tumor ganas, banyak cara yang dapat dilakukan untuk menjadi sembuh. Ini yang saya alami ketika didiagnosa terkena kanker payudara," tambahnya. 

Untuk mengurangi resiko terkena kanker payudara, dapat dimulai dengan kebiasaan yang sehat seperti asupan makanan yang sehat serta berolahraga, cek kesehatan secara rutin, tidak merokok, diet berimbang, istirahat yang cukup serta mengelola stres.

Dalam rangkaian sosialisasi ini, salah satu pegawai Ditjen Migas yaitu Mimin Mirnasari, membagi pengalamannya menjaga kesehatan setelah divonis terkena kanker payudara. Acara diakhiri dengan pemeriksaan kesehatan secara gratis. 

#kanker   #migas   #esdm