Ramai-ramai Move On ke Elpiji Non Subsidi

doci
Ramai-ramai Move On ke Elpiji Non Subsidi
Persediaan Gas Non Subsidi/ist

OFFSHORE Indonesia - Pagi itu, Dede seperti biasa menyiapkan manisan sari kelapa yang akan dikirim ke beberapa pusat oleh-oleh di Cianjur, Jawa Barat. Dede nyaman mengenakan kaos, celana pendek dan tas selempang. Tak luput, pria berusia 40 tahun itu dibantu pekerjanya mengangkat manisan ke mobil.

Siapa menduga, tiga pekerja Pertamina datang menyambanginya. Bukan dengan tangan kosong tetapi membawa beberapa tabung Bright Gas 5,5 Kg. Kedatangan pekerja Pertamina itu membuat Dede terlihat bingung. Itu karena baru awal bulan, dia mendapatkan kiriman 50 tabung Bright Gas 5,5 Kg dari Agen langganannya.
 
“Rata-rata seminggu segitu Pak, 50 tabung Bright Gas 5,5 Kg. Kalau ditotal sebulan 200 tabung jadi belum perlu nambah lagi. Biasanya untuk merebus air kelapa kelapa sebelum difermentasi,” kata Dede.

Namun, Sales Area Manager Pertamina Sukabumi, Gustiar Widodo yang mengunjungi pabrik Manisan Dede langsung menjelaskan maksud kedatangannya ke pabrik tersebut. “Kami memberikan hadiah kejutan untuk Kang Dede yang telah setia menggunakan LPG Non subsidi selama tiga tahun terakhir ini, dalam rangka Hari Pelanggan," ujar pria yang akrab disapa Dodiek tersebut.

Apresiasi kepada pelanggan setia Bright Gas 5,5 Kg dan 12 Kg ini merupakan inisiasi Pertamina Marketing Operation Region III,  memberikan nilai tambah kepada pelanggan LPG Non PSO dengan konsumsi terbanyak di masing-masing wilayah. Karena itu, Pertamina memberikan hadiah berupa Bright Gas 12 Kg sebanyak 12 tabung selama 1 tahun, serta plakat tanda setia pelanggan Bright Gas.

Di Wilayah Marketing Operation Region III terdapat 24 usaha mikro, UKM, restoran dan laundry yang tersebar di 14 kota di propinsi Banten, DKI dan Jawa Barat. “Diharapkan dengan apresiasi ini akan mendorong para pengusaha lainnya untuk menggunakan LPG Non Subsidi, sehingga LPG 3 Kg benar-benar digunakan sesuai peruntukannya yakni bagi keluarga pra sejahtera dan usaha mikro,” jelas Dodiek.

Penjelasan itu langsung membuat sumringah Kang Dede. “Alhamdulillah, karena setelah pakai Bright Gas 5,5 Kg, lebih hemat kalau dari hitungan kami. Ini rezeki manis dari Pertamina buat kami pengusaha manisan. Semanis warna pink Bright Gas,” katanya.

Gustiar menambahkan, untuk wilayah Cianjur selain Manisan Dede, apresiasi juga diberikan kepada Rumah Makan Alam Sunda dengan konsumsi rata-rata per bulan 300 tabung Bright Gas 12 Kg.

Cerita serupa juga datang dari Hajjah Imas. Pemilik Rumah Makan Bu Imas yang berada di Jalan Balong, Bandung ini memang setia menggunakan Bright Gas 12 Kg. Penggunaannya bahkan hingga lebih dari seribu tabung per bulan. Karena merupakan salah satu pengguna terbesar Bright Gas, Pertamina MOR III memberi kejutan berupa gratis isi ulang (refill) Bright Gas selama satu tahun, atau setara 1 tabung Bright Gas 12 KG per bulan. "Saya percaya dengan Bright Gas, keamanannya lebih terjamin karena memiliki katup ganda (double spindle). Selain itu juga gampang dibawanya," ujar Hajjah Imas, Pemilik RM Bu Imas.

Seperti halnya RM Bu Imas, Food Court Koenyah juga memperoleh apresiasi serupa. “Sejak awal Food Court Koenyah beroperasi, yakni tahun 2016, kami sudah memakai Bright Gas 5,5KG karena praktis dan warna tabungnya eye catching, cocok untuk konsumen disini yang berada di lingkungan menengah ke atas,” kata Amila Khairina (27 tahun), Pemilik Food Court Koenyah.  

Branch Manager Pertamina Jawa Barat Sylvia Grace Yuvenna menjelaskan, apresiasi kepada pengguna Bright Gas merupakan upaya Pertamina untuk mendekatkan dengan para konsumen setianya. “Melalui program ini, kami memberi apresiasi tertinggi bagi konsumen yang telah menerima produk berkualitas dari Pertamina. Hal ini mencerminkan bahwa produk Pertamina dinilai memiliki kualitas sehingga dipercaya oleh masyarakat. Ini merupakan salah satu peran perusahaan, yakni acceptability atau diterimanya produk Pertamina di masyarakat,” jelasnya.

Sebelumnya, Menteri BUMN Rini M. Soemarno ikut mengajak pengusaha kuliner skala besar untuk move on ke LPG Non Subsidi Bright Gas 5.5 Kg, atau yang akrab disebut gas pink. Ajakan tersebut dilakukan di sela-sela kunjungan kerja Menteri BUMN di Karawang, Jawa Barat. Rini didampingi Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati, Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H Samsu, Direktur Pemasaran Retail Pertamina Mas'ud Khamid, yang menyempatkan mampir ke rumah makan Pepes H. Dirja di Walahar, Karawang.

Rumah makan pepes legendaris tersebut, merupakan salah satu warung makan favorit, dengan ciri khas menu aneka pepes. Selama ini, pemilik rumah makan ini yaitu Hajjah Dirja, mengaku menggunakan LPG subsidi 3 Kg untuk keperluan memasak jenis lauk yang di goreng. Rata-rata sehari bisa habis 3 tabung hijau. “Repot juga, kadang nanggung kalau lagi goreng ikan dan banyak tamu, tiba-tiba gasnya habis. Jadi harus ganti dulu,” ujar Hajjah Dirja menceritakan pengalamannya.

Kini dengan Bright Gas 5,5 Kg, dia berharap pekerjaan tidak terganggu dengan urusan ganti tabung. "Selain praktis, warnanya juga cakep. Semoga mudah nyari isi ulangnya," katanya.

Direktur Pemasaran Retail Pertamina Mas'ud Khamid menjelaskan, program edukasi persuasif kepada pengusaha usaha HORECA (Hotel, Restaurant dan Cafe), terus digalakkan Pertamina melalui jalur asosiasi maupun langsung ke pengusaha. "Kami biasa menghimbau mereka, untuk move on ke LPG Non Subsidi melalui program trade-in seperti saat ini. Tentunya kami berharap langkah ini akan diikuti pengusaha restoran lainnya," kata Mas'ud Khamid.

Menurut Permen ESDM No. 26 tahun 2009 tentang Penyediaan dan Pendistribusian LPG Subsidi, disebutkan LPG 3 Kg diperuntukkan bagi  masyarakat kategori pra sejahtera atau usaha mikro. Melalui program trade-in, Pertamina turut mendorong agar penggunaan LPG subsidi menjadi tepat sasaran.

#gas   #elpiji   #pink   #move   #on   #pertamina