PEPC Jaga Produksi Migas Nasional

Doci
PEPC Jaga Produksi Migas Nasional
Dirut PEPC Jamsaton Nababan (ist)

OFFSHORE Indonesia - PT Pertamina EP Cepu (PEPC) terus berupaya memberikan kontribusi bagi peningkatan produksi minyak dan gas bumi nasional, salah satunya dengan mengoptimalkan produksi lapangan Banyu Urip dan pengembangan proyek Jambaran-Tiung Biru (JTB) yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN).

Faktor apa saja yang menunjang keberhasilan tersebut?

Berikut penjelasan Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu Jamsaton Nababan seperti dikutip dari Energia.

Bisa dijelaskan terkait pencapaian kinerja PEPC hingga Semester I 2019?

Kinerja PEPC mulai meningkat secara signifikan sejak 2017, seiring meningkatnya produksi minyak mentah dari lapangan Banyu Urip. Pengoperasian lapangan Banyu Urip adalah kerja sama antara PEPC dengan ExxonMobil Cepu Limited sebagai partner.

Tahun 2017, lapangan Banyu Urip berhasil memproduksi minyak mentah sebesar 95.585 barel/hari (45% bagian PEPC). Kemudian jumlah tersebut meningkat di tahun 2018 hingga mencapai 93.957 barel/hari (45% bagian PEPC).

Pada 2018, PEPC juga tercatat sebagai anak perusahaan Pertamina yang berhasil membukukan keuntungan terbesar, yaitu US$843 juta. Keuntungan terbesar ini juga kita barengi dengan kinerja sebagai penyumbang pajak terbesar di antara seluruh KKKS di Indonesia, yaitu sebesar Rp8 triliun.

Tidak hanya itu, aspek Health Safety Security Environment (HSSE) juga menunjukkan kinerja yang baik, dengan safety manhours mencapai 3.499.463 jam kerja. PEPC juga selama dua tahun berturutturut meraih penilaian AAA, yakni nilai tertinggi perusahaan dari penilaian BUMN dalam hal kesehatan perusahaan.

Pada aspek proyek, kami juga terbilang cukup baik. Pada 2018, PEPC secara intensif melaksanakan Engineering, Procurement, and Construction untuk Gas Processing Facilities (EPC GPF) proyek JTB. Sementara itu, dari sisi produksi, hingga semester I 2019 lapangan Banyu Urip telah memproduksi minyak mentah sebesar 99.319 barel/ hari (45% bagian PEPC). Pada semester I tahun 2019 ini, PEPC juga telah membukukan keuntungan (unaudited) sekitar US$400 juta.

Kami berharap pencapaian ini bisa terus kami pertahankan, bahkan kami tingkatkan. Kami juga berharap dari sisi produksi tetap terjaga sehingga dapat mencapai, bahkan melebihi target KPI yang telah ditetapkan pada tahun 2019 yaitu 96.162 barel/hari.

Tidak hanya dari sisi produksi, kami juga berharap pencapaian lainnya, seperti proyek dan HSSE. Kami yakin tahun ini kami dapat kembali membukukan keuntungan yang terbesar di antara anak perusahaan Pertamina sektor hulu seiring peningkatan produksi.

Kami juga melakukan optimasi own use (fuel gas) melalui perubahan teknologi di Gas Processing Facilities (GPF), yang menghasilkan tambahan gas 20 MMSCFD sehingga meningkatkan produksi penjualan sales gas dari semula 172 MMSCFD menjadi 192 MMSCFD. Perubahan teknologi ini juga berhasil meningkatkan nilai tambah proyek yang berupa produk sampingan asam sulfat cair, yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor asam sulfat.

Faktor apa saja yang menunjang pencapaian tersebut? Secara desain, fasilitas lapangan Banyu Urip ini menganut world class standard. Mengapa produksi bisa meningkat?

Pertama, karena kami bisa mengoptimalkan kapasitas secara maksimum. Kedua, dari sisi aspek subsurface, cadangan lapangan Banyu Urip cukup besar, sekitar 800 juta barel oil dan ini meningkat dari tahun ke tahun. Artinya, hal itu disumbang oleh subsurface dan plant capacity yang prima sehingga menghasilkan resultan produksi yang meningkat.

Aspek ketiga, di dalam planned shutdown kita berusaha melakukan efisiensi dengan mempersingkat waktu maintenance. Ketiga aspek tersebut yang membuat produksi lapangan Banyu Urip meningkat.

Lantas, bagaimana dengan kemajuan proyek Jambaran Tiung Biru (JTB) sampai dengan kuartal II 2019?

Pada kuartal kedua tahun 2019 kemajuan EPC GPF Proyek Unitisasi Pengembangan Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) mencapai 26% atau lebih cepat 1% dari plan sebesar 25%. Percepatan progress konstruksi ini merupakan bentuk komitmen PEPC untuk selalu progresif dalam rangka mengoptimalkan produksi cadangan migas nasional.

Proyek dengan rencana produksi sales gas sebesar 192 MMSCFD tersebut nantinya akan dialirkan melalui pipa transmisi Gresik-Semarang. Dengan cadangan gas JTB sebesar 2,5 triliun kaki kubik (TCF), JTB diharapkan dapat memberikan multiplier effect, khususnya untuk mengatasi defisit pasokan gas di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Percepatan konstruksi Gas Processing Facilities (GPF) merupakan bagian krusial dari manajemen proyek. GPF adalah fasilitas yang berfungsi mengolah produksi rata-rata raw gas dengan rata-rata sebesar 315 MMSCFD.

Untuk mendukung target produksi onstream JTB di tahun 2021, PEPC akan melakukan pengeboran 6 buah sumur secara bertahap, di antaranya 4 sumur yang terletak di wellpad Jambaran East dan 2 di wellpad Jambaran Central. Tahapan drilling ditargetkan selesai pada Q1 2021 untuk mendukung target onstream GPF pada Q2 2021.

PEPC berhasil melakukan efisiensi investasi (capital expenditure/Capex) sebesar US$653 juta untuk proyek JTB. Penurunan nilai investasi dari US$2,2 miliar menjadi US$1,547 miliar men­jadi bukti bahwa PEPC mampu bekerja efisien dalam mengembangkan salah satu PSN ini.

Proyek JTB merupakan proyek pertama di lingkungan anak perusahaan yang berhasil melakukan project financing. JTB berhasil mendapatkan pendanaan sebesar US$1,85 milyar dari 8 institusi pendanaan internasional dan 4 institusi pendanaan nasional. Hal itu mencerminkan bahwa proyek JTB merupakan proyek world class sehingga dipercaya mendapatkan pendanaan.

Bagaimana upaya perusahan dalam menjalin hubungan baik dengan masyarakat khususnya di sekitar area operasi?

PEPC begitu dekat dengan masyarakat Bojonegoro dan sekitarnya. Semua aktivitas yang dilakukan oleh PEPC didukung penuh oleh masyarakat. Contohnya, saat melakukan pergerakan rig ke lokasi yang melibatkan hampir 120 kontainer, tidak ada satupun masyarakat yang komplain dan berdemo atas iringan kontainer tersebut. Ini menunjukkan hubungan kami dengan masya­ rakat baik sehingga masyarakat welcome dengan PEPC dan proyek ini.

Dari awal, teman-teman PEPC cukup membaur kepada masyarakat. Banyak cara yang dilakukan untuk membuat nyaman masyarakat sekitar, di antaranya pekerja PEPC selalu membaur saat hari-hari besar keagamaan dan selalu mengundang yatim piatu dan dhuafa. Kita juga undang (masyarakat) untuk makan dan duduk bersama. Itu adalah cara-cara PEPC untuk menjalin hubungan baik dengan masyarakat.

Kami juga merekrut sedikitnya 100 tenaga operator lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk bekerja dalam mengoperasikan JTB. Kami juga berdayakan masyarakat sekitar Kabupaten Bojonegoro dan juga melibatkan kontraktor lokal. Tak lupa kami juga menjalin hubungan baik dengan para pemangku kepentingan setempat. Mulai dari Pemerintah Daerah, Polisi, hingga TNI.

Perusahaan juga gencar melaksanakan program-program CSR di wilayah Bojonegoro, salah satunya dengan memberikan pelatihan produksi dan perawatan budidaya ayam petelur guna meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.

Apa harapan PEPC tahun 2019?

Kami akan tetap menjaga bahkan meningkatkan progress proyek JTB. Karena JTB adalah PSN, seluruh stakeholder akan melihat bagaimana hasil proyek tersebut. Ini merupakan satu pertaruhan besar di sektor hulu, bagaimana PEPC bisa menyelesaikan proyek ini. PEPC ingin membuktikan kepada dunia, bahwa kami mampu menyelesaikan proyek cukup besar dengan tepat waktu dan teknik yang tepat.

Selama kita bisa maintain actual dan plan, kita pasti ontime. Tangan kiri HSSE, tangan kanan risk management. Semua kita monitor proyek JTB ini, jangan sampai risk ini muncul sehingga actual sesuai dengan rencana. *Energia/Red

#PEPC   #JTB   #PERTAMINA   #Jamsaton   #Nababan